Selasa, 21 April 2015

Jumlah Rudal Yakhont TNI AL Lebih Dari 100 Buah?

Jumlah Rudal Yakhont TNI AL Lebih Dari
100 Buah?
Rudal Yakhont P 800 adalah rudal jelajah
jarak menengah supersonik strategis generasi
keempat buatan Rusia yang baru digunakan
oleh Rusia, Indonesia, Vietnam, Suriah dan
India. India menamakan rudal ini BrahMos
(diambil dari dua nama sungai, Brahmaputra
dan Moskva) hasil joint venture India dan
Rusia. Yakhont memiliki jarak tembak 300 Km
atau setara dengan jarak Surabaya ke
Semarang, sedangkan hulu ledaknya adalah
200 Kg.
Di Asia Tenggara, Yakhont hanya digunakan
oleh Vietnam dan Indonesia. Perbedaannya,
Vietnam menempatkan rudalnya di Silo
(tempat peluncuran) di pantai, bersifat statis,
untuk keperluan defensif untuk menghadang
kapal-kapal perang Cina yang bersengketa
dengan Vietnam tentang kepulauan Spratly,
sedangkan Indonesia menempatkannya di atas
kapal perang yang bersifat dinamis, bisa
digunakan untuk keperluan ofensif maupun
defensif.
Hal di atas membuat peta pertahanan
keamanan di Asia Tenggara berubah, terlebih
setelah sebuah fregat TNI AL yaitu KRI Oswald
Siahaaan 354 sukses melakukan uji coba
penembakan rudal Yakhont di Samudera
Indonesia pada tahun 2011. Perubahan ini
terjadi, karena sampai saat ini negara-negara
ASEAN lainnya masih mengandalkan rudal
jarak pendek saja seperti Exocet dan Harpoon.
Selain kecepatannya yang tinggi, sekitar 2,5
kali kecepatan suara, keunggulan rudal Yakhont
adalah kemampuannya untuk terbang pada
ketinggian hanya 5 sampai 10 meter di atas
permukaan laut. Ketinggian yang rendah ini
sulit ditangkap oleh radar, sehingga
kedatangan Yakhont hanya bisa dideteksi
secara visual pada saat rudal sudah berada
sangat dekat dengan sasaran. Saat tidak ada
waktu lagi untuk menghindar Yakhont milik TNI
AL sudah menerjang kapal perang lawan.
Menurut sumber yang didapat penulis, Saat
ini 16 KRI milik TNI AL sudah dilengkapi
dengan rudal Yakhont, yaitu 6 fregat dan 10
korvet. Masing-masing fregat dipasang
delapan unit Yakhont, sedangkan korvet
sebanyak empat unit. Pemasangan dilakukan
seluruhnya oleh PT. PAL di Surabaya. Ini
artinya Indonesia paling tidak sudah memiliki
lebih dari 100 rudal Yakhont.
Fregat yang telah dilengkapi dengan rudal
Yakhont adalah KRI Ahmad Yani 351, KRI
Abdul Halim Perdana Kusuma 355, KRI Karel
Satsuit Tubun 356, KRI Slamet Riyadi 352,
KRI Yos Sudarso 353 dan KRI Oswald
Siahaan 354 .
Keenamn fregat di atas adalah fregat ex
Belanda dari kelas Van Speijk (2.200 ton)
buatan tahun 1967, dan dibeli Indonesia pada
tahun 1980 menjadi fregat kelas Ahmad Yani.
Belanda membuat enam buah fregat kelas Van
Speijk ini dan semuanya kemudian dijual
kepada Indonesia. Pada tahun 2003 sampai
2008, semua fregat kelas Ahmad Yani sudah
menggunakan mesin diesel sebagai pengganti
mesin turbin uap.
Saat ini TNI AL mempunyai 20 kapal perang
jenis korvet yang beroperasi, 4 diantaranya
adalah korvet kelas Sigma buatan Belanda, dan
sisanya sebanyak 16 buah adalah korvet kelas
Parchim ( 793 ton) yang merupakan bagian
dari pembelian 39 kapal ex-Jerman Timur oleh
B.J. Habibie pada tahun 1990-an pada masa
pemerintahan Presiden Suharto.
Jika di atas dikatakan bahwa 10 korvet TNI AL
sudah dilengkapi dengan rudal Yakhont, maka
hampir bisa dipastikan bahwa korvet yang
mendapat tugas menggotong rudal Yakhont
adalah dari kelas Parchim ini, diantaranya:, KRI
Imam Bonjol 383 , KRI Pati Unus 384 , KRI
Teuku Umar 385 , KRI Silas Papare 386 , KRI
Hasan Basri 382 , KRI Untung Suropati 372 ,
KRI Nuku 373 , KRI Lambung Mangkurat 374 ,
KRI Sutanto 377, dan KRI Sultan Thaha
Syaifuddin 376. (Wikipedia)
Sementara penulis juga merasa bahwa
nantinya kapal-kapal selam baru TNI AL juga
akan dilengkapi dengan rudal Yakhont, karena
Yakhont memang bisa diluncurkan dari bawah
laut. "Jalesveva Jayamahe"
Sumber : Kompasiana

https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=853399328053188&id=629719087087881&substory_index=0

Diberdayakan oleh Blogger.